Perjalanan Seorang OAK IX

Hari ini, 17 Juli 2017, merupakan hari pertama masuk sekolah. Matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Tepat pukul 05.00 pagi, alarm mulai berbunyi. Kelopak mata terasa berat untuk terbuka. Hmm… badan ini enggan untuk meninggalkan kasur yang begitu nyaman. Namun, apa daya, hari ini merupakan hari pertamaku menjadi siswa SMP di Lentera Harapan Labuan Bajo. Pukul 07.30 pagi, aku dan adik-adikku sudah sampai di sekolah. Ketika kakiku berpijak di lantai sekolah, hatiku terasa berbunga-bunga. Rasanya senang sekali bisa mendapatkan teman baru. Aku memang sedang berbunga namun terbesit rasa takut dalam hatiku. Aku takut bukan kepada setan, tapi rasa yang muncul karena mulut yang kaku untuk sekedar memberi salam pada orang yang tak ku kenal. Walaupun lidah ini kelu untuk memberi sapa, namun akhirnya ku kumpulkan niatku sekedar bertegur sapa dengan orang baru. Kami diajak untuk membuat barisan sesuai kelas masing-masing. Pada saat berbaris, aku merasa nafasku tercekat karena tempat yang digunakan penuh dengan para murid. Kami melakukan banyak hal saat itu seperti senam singkat, berkenalan dengan guru-guru, dan masih banyak lagi. Setelah itu, kami diarahkan untuk menuju kelas masing-masing. Ruang kelasku berada di paling pojok, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Cukup untuk menampung 22 murid. Di depan kelas, seperti biasanya, terdapat papan tulis yang panjang. Sepertinya dua papan tulis yang digabung. Kelasku juga memiliki empat buah kipas angin yang sangat sejuk sehingga rambutku seringkali terbang menutupi wajahku. Beda sekali dengan SD ku. Di kelas, kami mulai memperkenalkan diri kami secara singkat. Saat itu, di sebelah kananku adalah seorang anak yang terlihat arogan dengan rambut yang panjang dan berbadan tinggi. Dia melihatku dengan sinis dan seakan-akan ingin menerkamku. “Sombong sekali”, pikirku. 

Ah, sekarang merupakan giliranku untuk memperkenalkan diri. Perkenalkan, namaku Cici. Aku memiliki tubuh yang pendek. Dulu, aku memiliki rambut hitam panjang yang berponi sampai menutupi dahi. Saat SD, aku memiliki dua teman dekat yang hingga sekarang masih satu sekolah. Salah satu temanku memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi dengan kulit putih dan rambut hitam panjang yang tebal serta suara tertawanya yang khas, seperti toa. Sedangkan yang satunya merupakan seorang anak dengan kacamata yang selalu bertengger di hidungnya dengan mata yang sipit sehingga terbentuk garis lurus ketika ia tersenyum, berkulit putih, dan tubuh yang bisa dikatakan tinggi.  Hari pertama sekolah berjalan dengan baik. Kami berkeliling sekolah dan berkenalan satu sama lain. Perjalanan kelas tujuh seperti aliran sungai yang mengalir dengan sedikit hambatan karena kerikil-kerikil kecil. Aku merasa sangat kesulitan untuk berbicara di depan teman-teman. Rasanya ada sesuatu yang menahan suaraku untuk keluar. Ketika menjawab pertanyaan, guru terus-terusan memarahiku karena suaraku yang kecil. “Astaga!! Apakah kamu bicara sendirian di sana? Tolong diulangi dengan suara yang lebih besar!” Yah… Hatiku mulai menggerutu… Cukup kesal harus mengulang jawaban yang sama karena selalu dipotong guru ketika suaraku kecil. Aku sudah berusaha mengeluarkan semua suaraku sampai urat terlihat menonjol, tapi suara ku tak sampai ke telinga guruku. Terkadang aku sering berkata seperti “Sabar dong bu, suaraku sudah besar nih”. Tapi aku tidak seberani itu untuk mengatakannya. Bisa-bisa aku dikeluarkan dari kelas. Jadi, sebisa mungkin ku kontrol wajahku agar tidak terlihat emosi. Namun, aku sadar bahwa guru melakukan itu agar aku bisa percaya diri di depan umum, agar aku tidak seperti anak kucing yang takut akan segala hal.

Setiap tahun kami akan melakukan SLC. SLC itu seperti kondisi dimana aku seakan-akan menjadi orang yang ahli dalam beberapa mata pelajaran. Semuanya berjalan dengan baik, sampai ada suatu hal yang menggemparkan seluruh SMP Lentera Harapan. Tidak! Portofolio temanku hilang! Padahal, portofolionya sudah selesai dibuat. Hampir semua orang di kelas panik. Guru-guru membantu kami dalam memecahkan kasus ini. Namun, tidak ditemukan siapa pelaku pencuri portofolionya. Guruku terlihat marah saat itu karena tidak ada yang mengaku siapa pencurinya. Terpaksa, temanku membuat portofolio yang baru dari awal. Sekitar H-7 SLC, portofolio temanku ditemukan oleh seorang kakak kelas di toilet. Astaga! Padahal portofolionya yang baru sudah selesai dibuat. Selain kasus temanku, kami memiliki banyak kasus lainnya. Seperti proyek yang dirobek, buku atau uang hilang, dan masih banyak lagi. Kelas kami seperti kelas yang penuh dengan misteri karena pelakunya tidak pernah diketahui orang lain. Aku sempat kesal karena selalu saja terjadi kasus di kelas kami dan pelakunya tidak mau mengaku. Aku juga capek mendengar ocehan guruku yang membuat telingaku berdengung. Huft… Hari yang melelahkan saat itu.

***

Satu tahun berlalu, aku dinyatakan naik ke kelas delapan. Ah… Aku merasa takut. Aku takut aku tidak dapat mengikuti dan memahami pembelajaran dengan baik. Dan yap! Ketakutanku terjadi. Aku harus terus-terusan mengulang materi yang sama, terus-terusan menghafal materi yang sama. Kesal, bosan, dan lelah, adalah hal yang biasa terjadi pada masa itu. Otak ini seperti mau pecah! Aku merasa otak ini seperti kura-kura yang berjalan. Terkadang aku berkata, “Susah sekali memahami materi ini” atau “Kenapa hasilnya begini? Dari mana asalnya?”. Huh! Melelahkan sekali. Namun, aku terus berusaha dan meminta bantuan guru dan teman. Bukan hanya itu saja masalahku. Aku dituntut oleh wali kelasku untuk bersaat teduh sendiri. Apakah wali kelasku tidak tau bahwa aku sangat bergumul dengan semua ini? Aku harus bangun lebih awal, dengan mata yang tidak terbuka lebar dan otak yang masih seperti kura-kura berjalan, aku harus berusaha membaca dan memahami maksud dari renungan tersebut. Awalnya, aku berpikir hal ini hanya rutinitas dan berpikir seperti “Ah… Harus baca Alkitab. Kalau tidak, ibu akan marah”. Ya, hanya sebatas rutinitas. Guruku itu sering marah kalau aku tidak mengerjakan tugas. Menyebalkan sekali. Namun, aku sadar bahwa jika aku melaksanakan saat teduh hanya sebagai rutinitas, hal itu sia-sia karena seharusnya, aku melakukan saat teduh untuk bersyukur, menjadi lebih dekat dengan Tuhan, atau berkomunikasi dengan Tuhan tentang hal-hal yang terjadi padaku. Mulai saat itu, aku berusaha untuk melakukan saat teduh dengan serius. Aku berusaha tidur lebih awal agar dapat bangun tepat waktu, harus membagi waktu dengan baik, dan berhikmat dalam menggunakan waktu. Yap, Benar sekali! Hal itu memang sulit. Namun, aku melakukannya untuk kebaikanku sendiri.

***

Hm… Waktu cepat sekali berlalu sekarang, aku sudah duduk di bangku kelas sembilan (IX). Tahun ini guru kami memilih tema kelas yang cukup unik. Temanya adalah OAK IX. Kenapa OAK? Awalnya aku juga bingung dengan kata OAK. Kata itu belum pernah kudengar, mungkinkah itu sejenis makanan atau barang atau binatang atau nama tempat? Entahlah aku juga tak tau. Kusimak kata-kata guruku. Katanya, OAK itu adalah sebuah pohon yang besar dengan akar yang besar juga sehingga dapat menahan pohon tersebut dari badai. Guru kami ingin agar kami seperti pohon itu. Guruku ini memang banyak maunya. Bagaimana bisa kami diminta untuk menjadi seperti pohon? Kami kan manusia. Aneh-aneh saja guruku. Setelah kudengarkan lagi, ternyata guru kami meminta kami untuk menjadi seperti pohon tersebut, dengan artian kami harus kuat dengan berakar pada Allah. 

Tahun ini merupakan tahun yang paling sulit bagiku. Aku harus betul-betul membagi waktu ku dengan baik dan menggunakan waktu dengan berhikmat. Selain itu, kami juga harus menyelesaikan semua pelajaran kelas sembilan pada semester satu agar pada semester dua digunakan untuk mempersiapkan USBN dan UNBK. Aku merasa aku seperti robot yang tidak henti-hentinya bekerja ini dan itu. Jika aku bisa, aku akan memilih untuk tidak mengerjakan tugas tersebut. Tentu saja itu hanya khayalanku. Aku juga sering berkata seperti “Hah, guru ini maunya banyak sekali, aku kan juga punya rutinitas lain”. Mulutku ini seperti burung yang berkicau. Tak henti-hentinya mengeluh. Kapan selesainya kalau mengeluh terus? Di tengah kesibukan kami, muncul wabah virus Covid-19. Virus ini seperti hujan yang menyerang banyak orang. Sudah banyak orang yang terinfeksi virus ini. Oleh karena itu, kami terpaksa diliburkan dan melakukan pembelajaran secara online. Ah… Padahal kami akan berpisah sebentar lagi. Aku merasa seperti memikul gunung. Melelahkan dan tentu saja berat sekali. Bukan hanya aku, tentunya seluruh OAK IX. Yang aku inginkan saat ini adalah agar semuanya kembali normal dan wabah virus Covid-19 segera berlalu. Tentu saja aku tidak bisa menghilangkan virus ini. Namun, aku dapat mencegahnya dengan cara selalu mencuci tangan, minum air yang banyak, dan tetap di rumah. 

“Semuanya akan berjalan dengan baik jika kita mau berusaha dan tidak mengeluh”

Holla!

Perkenalkan, nama lengkap saya Amanda Patricia Djami, sering disapa Cici. Saya mempunyai tiga orang adik. Adik pertama saya bernama Livya, adik kedua saya bernama Leonard, namun sering disapa Titi, dan adik terakhir saya bernama Lilly. Sekarang saya berumur 13 tahun. Hal yang biasa saya lakukan di waktu senggang adalah bermain gitar, mendengar musik, lattering, atau membaca novel (jika ada).

Itu saja perkenalan dari saya

Terima kasih karena sudah mau mengunjungi blog saya

xie xie, GBU

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai